• Whatsapp Wahyu Winoto
  • Pinterest Wahyu Winoto
  • Twitter Wahyu Winoto
  • Instagram Wahyu Winoto
  • Facebook Wahyu Winoto


header wahyu winoto blog

Simbol Sumber Konflik Agama

     Para ahli menyebut manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan juga makhluk simbol (Homo Symbolicum). Luce Irigaray (seorang filsuf, linguis, psikolinguis, psikoanalis, dan ahli budaya dari Prancis kelahiran Belgia), menempatkan dunia manusia dalam 3 bagian piramida. Abstraksi piramidal tersebut terdiri atas dunia biologis pada lapis pertama, kemudian dunia sosial budaya pada lapis tengah, dan dunia simbol pada lapis teratas.

Dunia biologis ditempatkan pada lapis pertama, karena menurut Irrigaray jika dilihat dari sisi biologis semua manusia memiliki kesetaraan, dan hal tersebut tidak menimbulkan konflik dalam diri manusia sehingga perbedaan biologis dalam diri manusia adalah sesuatu yang bersifat statis.

Dilapis kedua, dunia sosial dan budaya, disini ada interaksi, manusia mulai menemukan konflik di dalamnya. Konflik tersebut dapat saja muncul ketika salah satu dari mereka ada tidak menempatkan diri dengan seharusnya. Termasuk persaingan dan perebutan.

Posisi puncak piramida, manusia sebagai makhluk simbolik merupakan puncak dari adanya konflik-konflik antar manusia.
Manusia melihat simbol sebagai sesuatu yang eksklusive. Diluar mereka itu berarti berbeda dan (mungkin) tidak sebaik mereka.

Lebih Jauh Tentang Simbol

Segala sesuatu jika dia masuk dalam kehidupan manusia butuh penanda dan petanda (signifier dan signified). Istilah ini saya ambil dari pendapatnya Ferdinand de Saussure (ahli semiotika dari Swiss yang hidup pada tahun 1800-an).

Saya ambil contoh yang sedang hot sekarang ini, yaitu tentang "Tuhan".
Manusia menyembah entitas Tuhan dengan simbol yang berbeda-beda, misalnya: Muslim menyembah Allah dengan menghadap simbol Kakbah, Kristen menyembah Allah dengan berdoa didepan Salib, orang Yunani menyembah Tuhan yang disimbolkan dengan Theos, orang Persia menyebutnya Azura Mazda dengan simbol api, orang mesir menyebutnya Amon-Ra, orang hindu menyebutnya Sanghyang Widi Wasa, orang Shinto menyembah Tuhan yang disebut Amaterasu Omikami dengan menghadap matahari, orang Khonghucu dengan dewa-dewa sebagai simbolnya, dan banyak lagi penyebutan manusia mengenai entitas Tuhan.

Secara substansial yang mereka sebut diatas adalah 1 realitas, yaitu realitas Tuhan, cuma simbol-simbol yang digunakan untuk mendefinisikan realitas tersebut berbeda-beda. 

Kembali ke bahasan tentang piramida diatas, simbol-simbol itu menjadi eksklusif, rawan memicu konflik bagi pemeluk simbol yang berbeda.

Sementara itu...
Sebuah simbol dipastikan tak akan mampu mewakili sebuah realitas yang rumit dan kompleks. Apalagi kalau realitas itu berupa Tuhan, sebuah entitas yang absolut, mutlak, causa prima, pencipta, maha segalanya, tak mungkin bisa diwakili hanya dengan sebuah simbol yang sempit.

Jika boleh saya pakai filosofi Jawa, orang Kejawen mendefinisikan Tuhan sebagai "tan biso kinoyo ngopo" tidak bisa digambarkan seperti apa, (tentu karena keagunganNya).

Lalu yang jadi pertanyaan sekarang, jika memang simbol tidak dapat mewakili secara penuh sebuah entitas, karena keagunganNya, apakah entitas itu lantas dapat terhina oleh sebab simbol itu dihina?
Mari renungkan


----
Salam
(WW)

Foto: Kucing saya yang bernama Jumi. Berbulu hitam.
kucing juminten, kucing jenis siberia
Juminten, kucing jenis Siberian


(Para petani di Latvia percaya bahwa kucing hitam merupakan titisan dari dewa panen yang bernama Rungis).


Share artikel: kepada saudara maupun kawan anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

wahyu-winoto.com




© 2010 - 2019 || Blog hosted by Blogger || Hak cipta dilindungi UU.
TOP