• Whatsapp Wahyu Winoto
  • Pinterest Wahyu Winoto
  • Twitter Wahyu Winoto
  • Instagram Wahyu Winoto
  • Facebook Wahyu Winoto


header wahyu winoto blog

Miliki Sedikit Barang Justru Lebih Bahagia

Punya Sedikit Tapi Lebih Bahagia

Dunia ini tumbuh makin kaya, makin makmur, termasuk di negara kita. Dulu orang tidak punya uang, kini makin banyak yang punya uang, sehingga belanjanya juga makin meningkat. Berikut ini saya sertakan grafik tingkat belanja konsumsi masyarakat kita yang terus tumbuh naik. 

grafik tingkat belanja konsumsi masyarakat
Grafik tingkat belanja konsumsi masyarakat
Dahulu tahun 2010 rata-rata orang membelanjakan uang 900-an ribu perbulan, namun kini orang Indonesia rata-rata membelanjakan uang sebesar 1,4 juta. (Grafik sumber: tradingeconomics . com).

Lantas, yang jadi pertanyaan adalah, apakah dengan konsumsi/belanja yang makin banyak itu membuat kita makin bahagia? Ternyata jawabannya, tidak.

Fenomena itu terus terjadi, dan beberapa orang mulai menyadari, dan mulai mencoba gaya hidup baru yang tidak "menggembor" belanja namun lebih fokus pada mencapai kebahagiaan. Maka muncullah pola hidup minimalis sebagai alternatif.

Konsep pola hidup minimalis atau minimalisme ini intinya adalah gaya hidup menyedikitkan benda-benda di sekitar kita. Tidak belanja banyak-banyak barang maupun makanan. Pokoknya apapun benda yang tidak benar-benar kita butuhkan, sebaiknya tidak perlu ada disekitar kita. Ataupun seandainya dibutuhkan tapi kita masih bisa hidup tanpa benda itu, pun sebaiknya ditiadakan saja.

Sejak Kapan Pola Hidup Itu Ada?
Pola hidup minimalis ini sebenarnya sudah diperkenalkan sejak ribuan tahun yang lalu. Contoh mudahnya, Nabi Muhammad SAW yang hidup sederhana, rumahnya cuma sepetak, bajunya tidak banyak. Berlanjut ke era para khalifah yang 4. Kemudian pada era keemasan Islam, meskipun negara semakin makmur namun ada orang-orang yang memilih pola hidup minimalis.

Tersebut didalam kitab Ikhya 'Ulumiddin karya Imam Ghazali, bahwa orang-orang yang ingin berbahagia harus fokus pada membangun batin/jiwa, bukan pada materi. Para sufi yang secara extrim menempuh jalan hidup minimalis ini bahkan ada yang berpendapat bahwa makan yang baik adalah cukup 1x sehari. Ada juga yang menganjurkan untuk makan cukup 1 potong roti, lebih dari 1 potong roti itu sudah dikatakan berlebih-lebihan.

Berlanjut ke era modern, salahsatu buku era modern yang bicara tentang konsep minimalism ini berjudul Goodbye Things karya Fumio Sasaki dari Japan. Dikatakan bahwa semakin sedikit barang yang ada di rumah mereka, semakin tinggi kualitas kebahagiaan hidup mereka.

Fumio Sasaki menganalogikan dengan pertanyaan sederhana begini; "Kenapa kita lebih tenang ada di kamar hotel?" Jawabannya, karena di kamar hotel kita tidak banyak barang. Paling cuma ada kasur, TV, AC, peralatan mandi. Dengan hidup minimalis kita jadi tidak direpotkan dengan banyak hal.

Jika gaya hidup minimalis kita terapkan dalam pola hidup sehari-hari, misal dengan rumah minimalis maka kita tidak perlu banyak barang untuk mengisinya, kita tidak perlu merapikan rumah yang luas, tidak perlu merawat taman atau kolam renang. Pakaian dan kendaraan juga sedikit saja, sehingga tidak perlu itu lemari full baju-baju yang tidak pernah kita pakai, atau rutinitas merawat banyak kendaraan juga dapat kita hindari.

Kita beli dan konsumsi segala hal secukupnya saja, sebatas kebutuhan dasar kita, jangan lebih. Manfaatnya, oleh karena sedikitnya hal-hal pengganggu diatas maka waktu kita akan longgar untuk diisi dengan hal-hal positif yang lebih membahagiakan dibanding untuk sekedar mengurus kesibukan rutinitas yang sering menjemukan. Waktu kita bisa kita isi untuk membangun kualitas diri agar makin mulia.

 ---


Share artikel: kepada saudara maupun kawan anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

wahyu-winoto.com wahyu-winoto.com



© 2010 - 2019 || Blog hosted by Blogger || Hak cipta dilindungi UU.
TOP