• G+ Wahyu Winoto
  • Pinterest Wahyu Winoto
  • Instagram Wahyu Winoto
  • Twitter Wahyu Winoto
  • Facebook Wahyu Winoto
  • Whatsapp Wahyu Winoto


header wahyu winoto blog

Meningkatkan Nilai Tambah (Value Added) Bisnis Kita

Masih terkait tulisan saya sebelumnya yaitu bagaimana memulai bisnis online dengan modal minim, maka satu hal yang tidak boleh dilewatkan dalam bisnis adalah kita sebisa mungkin untuk meningkatkan NILAI TAMBAH dalam bisnis kita.

Nilai tambah atau Value Added dapat diaplikasikan pada tahap produksi, distribusi, maupun lainnya. Kita sering dengar kata nilai tambah, tapi apa maknanya dalam realitas sering terlupakan. Ilmu ekonomi menempatkan nilai tambah dalam mata rantai produksi dan mata rantai distribusi. Nilai tambah jadi ukuran produktivitas dan daya saing di pasar.

Sebuah Toko online yang jumlah pengunjungnya 1 juta orang perbulan, keuntungan penjualan 1 milyar rupiah perbulan, hal itu setara dengan memiliki 100 toko online dengan pengunjung 10.000 orang perbulan.


Apanya yang berbeda?

Iya benar, cara mengelolanya!

Mengelola 100 toko online pasti lebih ribet dibanding 1 toko online. Akan lebih banyak potensi eror. Tenaga kerja yang mengelola 100 web pasti lebih banyak dibanding untuk mengelola 1 website. Secara sederhananya bisa kita katakan begitu.

Itu artinya, 1 buah website besar dengan pengunjung 1 juta orang perbulan itu memiliki Nilai Tambah atau Value Added dibanding website toko online lain yang lebih kecil tadi. Dimana dia mampu menekan biaya hosting dan domain, menekan ongkos tenaga kerja, menekan jumlah eror karena lebih mudah dipantau, dan lain sebagainya. Hal itu jelas biaya yang tidak sedikit.
Meningkatkan Nilai Tambah (Value Added) Bisnis Kita
Gambar ilustrasi via KUMKM Kalteng
Nilai tambah (value added) memiliki variasi. Nilai tambah yang membedakan industri ringan. industri menengah dan industri berat. Nilai tambah juga yang membedakan mana usaha dikategorikan sebagai usaha kecil, menengah dan besar. 

Nilai tambah menjadi indikator dari tingkat persaingan. Pedagang dropship eceran tentu tak mampu bersaing dengan produsen atau distributor. Menjalankan bisnis jualannya saja memiliki tatacara berbeda. Baik jenis dan ukuran tokonya, Variasi produk yang disediakan maupun biaya bulanan yang dikeluarkan untuk mendapatkan calon konsumen 1 juta orang tentu beda dengan 10.000 orang. Perbedaan jenis, dan tatacara mengelola ini dalam istilah yang keren disebut dengan istilah "economic of scope".

Value Added dalam Bidang Lain

Dalam mata rantai produksi motor atau mobil, nilai tambah merupakan pertambahan keuntungan yang diperoleh ketika suatu bahan baku diubah menjadi komponen dan produk setengah jadi dan dirakit menjadi produk akhir. Karenanya matarantai tersebut disebut dengan istilah "value chain", dan tata kelola nya disebut "supply chain", mata rantai pasokan. Tiap mata rantai nilai memiliki biaya produksi dan harga sual berbeda. Tergantung ruang lingkup pekerjaan, kecepatan siklus produksi dan skala atau volume produksi yang dikembangkan.

Dalam mata rantai nihai tambah tersembunyi apa yang disebut dalam ilmu ekonomi sebagai Economic of Scope , Economic of Speed dan Economic of Scale. Skala produksi, kecepatan produksi, ruang lingkup pekerjaan menentukan dinamika suatu mata rantai nilai tambah. Ini yang disebut dengan Dinamika Industri.

Jadi, Meningkatkan Nilai Tambah (Value Added) Bisnis, dapat kita katakan;


Nilai tambah pada gilirannya akan memperlebar senyum suatu Bangsa. Smiling Curve kata pendiri Acer yang menentukan apakah kita mampu memiliki perusahaan unggul atau tidak. Makin lebar ruang senyuman, makin tinggi nilai tambah.

Determinasi untuk memproduksi barang yang jauh lebih tinggi nilai tambah nya yang menentukan apakah kita sebagai suatu bangsa mampu menembus pasar internasional dan melindungi pasar dalam negeri. Maksudnya adalah mampu bersaing dengan produk-produk lain.
Semoga bermanfaat. 


Share artikel: kepada saudara maupun kawan anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

wahyu-winoto.com




© 2010 - 2018 || Blog hosted by Blogger || Hak cipta dilindungi UU.
TOP