• Whatsapp Wahyu Winoto
  • Pinterest Wahyu Winoto
  • Twitter Wahyu Winoto
  • Instagram Wahyu Winoto
  • Facebook Wahyu Winoto


header wahyu winoto blog

Produk Buatan China Cepat Rusak. Benarkah? Mengapa?

Ada persepsi masyarakat yang merasa bahwa barang-barang buatan China itu katanya tidak awet, cepat rusak, kualitas kurang baik. Benarkah itu?

Saya punya 2 cerita: 

Tape Deck Merk Phillips
Tape Deck Merk Phillips
Pertama, ini tentang Eyang saya (alm) yang dulu punya semacam tape recorder, merk Phillips, made in Holland (Lihat foto). Eyang saya sangat bangga dengan tape itu, sampai tahun 90-an tape itu masih disimpan meskipun sudah rusak. Pernah kami menawarkan untuk mengganti dengan tape baru (merk perusahaan Jepang) agar bisa di-setel untuk mendengarkan lagu-lagu keroncong, atau wayangan, namun Eyang saya bilang beliau tidak yakin dengan kualitas barang buatan Jepang. Baginya barang yang bagus ya buatan Eropa.


Radio merk National Cawang Transistor
Radio merk National
Cerita kedua, Ayah saya pada waktu awal bekerja sebagai PNS dulu sekali, barang elektronik yang pertama kali dibeli adalah sebuah radio. Lihat foto ke-2 dibawah, seperti itulah bentuk radionya. Merk National, Cawang Transistor. Made in Japan.
Saya merusak-kan radio tersebut, hingga tidak bisa lagi diperbaiki. Saya beli radio baru (merk perusahaan China), namun Ayah saya mengatakan lebih percaya dengan kualitas barang Jepang daripada barang buatan China. Bagi Ayah saya, barang elektronik yang bagus ya buatan Jepang.

Lihat 2 cerita tersebut diatas, sama-sama bicara tentang barang elektronik, orang-orang generasi yang lahir tahun 30-an lebih yakin dan percaya dengan kualitas barang buatan Eropa, sedangkan generasi tahun 50-an lebih yakin dan percaya dengan barang buatan Jepang.

Sekarang kembali ke paragraf pertama, dengan melihat pergeseran persepsi masyarakat antar generasi tentang merk barang elektronik, yang jadi pertanyaan sekarang adalah akankah generasi mendatang akan yakin dan percaya pada barang buatan China? 
Silahkan jawab dalam hati saja.


Pertanyaan selanjutnya.
Apakah memang barang-barang buatan sekarang dari sisi bahan baku dan kualitas pengerjaan memang diturunkan standardnya, atau dengan kata lain barang-barang jaman sekarang dibuat kurang berkualitas, sehingga menjadi tidak se-awet barang jaman dulu?

Untuk menjawab pertanyaan itu saya punya sejarah menarik tentang 'planned obsolescence' (keusangan disengaja), simak baik-baik;

Pada tahun 1989, ketika publik sedang sibuk dalam euforia penghancuran tembok Berlin, Seorang sejarawan bernama Helmut Herger masuk diam-diam ke kantor pusat Osram di Berlin Timur yang sedang vakum selama masa kerusuhan sipil. Di ruangan arsip ia menemukan sebuah dokumen yang menarik perhatiannya di antara banyak dokumen yang berserakan di lantai.

Dokumen tersebut ditengarai merupakan awal mula gagasan tentang "keusangan disengaja" dipraktikkan dalam dunia industri modern. Dokumen yang ditandatangani tahun 1934 itu memuat kesepakatan antara beberapa perusahaan bohlam di dunia untuk mengurangi usia bohlam lampu yang mereka produksi. Bohlam-bohlam ini akan secara otomatis tiba-tiba rusak setelah melewati 6 bulan pemakaian. Kelompok perusahaan itu dikenal dengan nama Kartel Phoebus. Diinisiasi oleh CEO Osram masa itu, William Meindhart.

Sejak saat itu, seluruh produk yang diproduksi oleh anggota Kartel Phoebus, sengaja dibuat untuk rusak. Tidak ada lagi dalam kamus mereka membuat produk yang awet umurnya. Semua barang sudah disepakati berapa rentang harganya dan berapa maksimal daya tahannya.

Pada tahun-tahun itu sebenarnya produsen sudah sampai pada penciptaan lampu yang jauh lebih awet. Adalah Centennial Light, yang diproduksi oleh Shelby Electric Company pada tahun 1890 banyak yang masih berfungsi dengan baik hingga 100 tahun kemudian. Salah satunya adalah yang dipasang di sebuah kantor pemadam kebakaran di Livermore. Bohlam itu terpasang di sana sejak tahun 1901. Artinya saat penandatanganan kesepakatan Kartel Phoebus, bohlam tersebut sudah berumur lebih dari 30 tahun dan masih menyala. Tapi bohlam dengan daya tahan seperti itu langsung saja menghilang dari pasaran sejak 1934.

Apa yang diinisiasi oleh CEO Osram saat itu mengenai 'planned obsolescence' (keusangan disengaja) didorong oleh kebutuhan mereka menyelamatkan perusahaan di masa-masa depresi besar. Dengan menerapkan secara sistematis prinsip keusangan disengaja, para pemilik kapital berhasil mengamankan cengkeraman mereka pada sistem ekonomi. Membuat orang-orang terpaksa harus tetap membeli produk mereka.

Dalam perkembangannya, keusangan disengaja tetap diterapkan hingga kini dengan berbagai penyesuaian. Bahkan saat ini kita telah sampai pada era bukan hanya kerusakan yang membuat orang-orang membeli barang baru. Saat ini orang membeli barang baru karena mereka merasa barangnya yang lama sudah ketinggalan jaman meskipun belum rusak.

Sekian.


Share artikel: kepada saudara maupun kawan anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

wahyu-winoto.com




© 2010 - 2019 || Blog hosted by Blogger || Hak cipta dilindungi UU.
TOP