Benarkah Makin tinggi pendidikan seseorang maka makin baik juga caranya berkendara, dan makin berkurang pula tingkat kecelakaannya?




Benarkah Makin tinggi pendidikan seseorang maka makin baik juga caranya berkendara, dan makin berkurang pula tingkat kecelakaannya?



Benarkah makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin baik juga caranya berkendara, dan makin berkurang pula tingkat kecelakaannya?

Sebagai seorang blogger pecinta review saya senang sekali membaca banyak referensi untuk memperkaya pengetahuan sebagai amunisi tulisan review saya. Nah, terkait dengan rencana review terbaru saya tentang dunia otomotif yaitu "Ban Terbaik di Indonesia GT Radial" dan VIAR Motor Indonesia, tanpa sengaja saat mencari referensi saya menemukan beberapa data dan fakta yang luar biasa menarik memprihatinkan :-(


Coba kamu simak:

Beberapa fakta yang dipaparkan oleh DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT- Kementerian Perhubungan melalui buku Perhubungan Darat Dalam Angka 2009 yang bisa kamu baca melalui : http://hubdat.web.id/data-a-informasi/pdda/tahun-2010/941-perhubungan-darat-dalam-angka-edisi-maret-2010/download

Dimana disana terdapat data fakta seputar dunia otomotif di Indonesia, lebih spesifik kali ini saya paparkan tentang penggunaan kendaraan beroda 2 (sepeda motor).

Di halaman KTD-2 terdapat grafik ini: 


Bagaimana memaknainya? 

Well, terserah sih. Cuman sepertinya jumlah sepeda motor kita agak banyak ya? Hehe, 

Ga percuma kita dinobatkan sebagai pasar sepeda motor terbesar ke-3 di dunia setelah China dan India yang jumlah masyarakatnya miliaran.
(Berita itu dari Kompas, Rabu, 3 November 2010. Ini link-nya http://otomotif.kompas.com/read/2010/11/03/11540244/Indonesia.Pasar.Sepeda.Motor.Terbesar.Ketiga.di.Dunia)

Lalu, di halaman KTD-5 bisa kamu temukan grafik ini:


Bagaimana memaknainya? 
Lagi-lagi terserah kita semua. 

Cuman rasa-rasanya kok grafik ini dengan yang sebelumnya berkaitan ya? 

Pantas jika Bank Dunia masih menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kecelakaan tertinggi di Asia, bahkan dunia.
(Berita ini mengutip Media Indonesia, Selasa, 07 September 2010. Ini link subernya http://www.mediaindonesia.com/read/2010/09/07/167144/68/11/Angkutan-Mudik-Lebaran-Menjemput-Maut)

Terakhir, di halaman KTD-6 lagi-lagi ada sesuatu yang menarik:


Sekali lagi, bagaimana memaknainya? 
Kali ini saya mau berpendapat, dengan feeling so good, saya bilang bahwa seiring bertambahnya umur (dan harapannya: kedewasaan juga) masyarakat kita dalam hal keselamatan berkendaraan roda dua terlihat makin baik. Hal itu mungkin bisa kita katakan "Makin tinggi pendidikan seseorang maka makin baik juga caranya berkendara, dan makin berkurang pula tingkat kecelakaannya"

Lalu selain apa yang saya katakan diatas, bisa juga timbul gagasan menggelitik, (amati lagi grafiknya) jangan-jangan yang mahasiswa itu jarang mengalami kecelakaan karena udah sering jatuh di masa SMA jadi sudah mahir atau jadi kapok naek motor? hehehe...

Pemerintah dan jajarannya memang terus berusaha meningkatkan keselamatan transportasi darat kita. Namun benarkah permasalahan transportasi kita ada pada tataran teknis? Jangan-jangan paradigma atau bahkan filosofi bertransportasi yang bermasalah di negeri tercinta Indonesia ini?

Maafkan kalau saya salah. 
Rasa-rasanya moda transportasi umum agak terabaikan, kondisi sarana prasarana yang memprihatinkan, layanan yang seringkali hanya mengejar setoran, belum lagi angkutan massal yang dimana-mana sepertinya kesulitan menarik pengguna. Sedangkan pemilikan dan penggunaan kendaraan pribadi khususnya sepeda motor rasa-rasanya seperti kuda liar yang berjingkrak-jingkrak di padang rumput lepas, tanpa batas.

Tanpa didukung data yang valid pun saya berani bilang bahwa banyak masyarakat kita yang beli pulsa ke kios yang cuma berjarak 200m saja dia sudah naik motor. 

Kondisi lingkungan yang tidak walkable dan angkutan umum yang tidak reliable boleh jadi menjadi alasan, namun, apakah memang itu alasannya? 

Saya sendiri selalu naik motor ke kampus, dan saya plea guilty as charged, tapi selama naik angkutan umum (yang belum reliable itu) menurut itung-itungan sederhana saya masih 6x lebih mahal dari naik motor, saya mending jadi oportunis daripada rugi gara-gara idealisme dalam hal transportasi ini.

Lalu, kalau sepertinya masalahnya sudah di level begini, apakah perlu langkah berani dari mereka yang berpengaruh kuat agar efeknya signifikan dan luas, atau masihkah kita bisa berkata: mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang? (Ini seperti ucapannya Pak Ustad terkenal dari Bandung itu kan, coba tebak siapa namanya?).

Iya, benar, AA Gym...

Terakhir, yang bisa saya sampaikan adalah, mari kita dukung usaha-usaha pemerintah meningkatkan keselamatan dan kualitas layanan transportasi baik pribadi maupun umum di negara kita. 



***


(Txh to Mas Rudi atas ide gagasan uniknya)








Ada 0 komentar untuk artikel Benarkah Makin tinggi pendidikan seseorang maka makin baik juga caranya berkendara, dan makin berkurang pula tingkat kecelakaannya?


Posting Komentar

 


garis hitam panjang
garis hitam panjang